Oky's Journal Online

My Dedicated for All My Friends in Librarian Community at Ubaya

2008/1/31

Pendekatan Sejarah dalam Mengelola Organisasi

Tags:
@ 03:32 AM (22 months, 2 days ago)

PENDEKATAN SEJARAH DALAM MENGELOLA ORGANISASI

REFLEKSI UBAYA DALAM RANGKA DIES KE 39

 

OLEH

 

Oky Widyanarko *)

 

 

 

MEMANDANG SEJARAH

Bagaimana Sejarah perkembangan Ubaya ketika pertama berdiri sampai saat ini. Jika pertanyaan ini diajukan kepada mahasiswa, karyawan atau dosen tentu dapat kita duga hanya orang-orang tertentu saja yang tahu, Sebut saja beberapa pelaku sejarah yang saat ini dapat kembali menceritakan perkembangan sejarah Ubaya, diantaranya  nama-nama Stany Soebakir (Ketua Yayasan), Drs.Ec. Wibisono H, MS (Rektor Ubaya), Anton Prijatno,SH (Mantan Rektor), Prof. Dr. Eko Sugitario,SH, Prof Sutaryadi. Drs. Darmo Handoyo,Apt, Dra. Elisawati Wonohadi,Msi,Apt dan masih banyak dosen  dan beberapa karyawan senior yang masih aktif.  Sebenarnya apa itu Sejarah. Apa yang sudah terjadi, kita anggap sebagai sejarah atau boleh kita mengatakan rekonstruksi masa lalu ( Kuntowijoyo, 2005). Mendiang Proklamator Bung Karno pernah mengingatkan kita akan “Sejarah” dengan pidatonya yang terkenal di jaman revolusi dulu dengan istilah “Jasmerah” atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah dan bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa pahlawannya. Bagaimanakah peran sejarah dalam kehidupan kita saat ini. Ada Tiga hal penting saat ini yang dapat kita jadikan pelajaran  bagaimana kita sebagai komunitas yang hidup di Ubaya pada tingkat pengetahuan dan keterlibatan tiap orang yang berbeda-beda memandang sejarah dengan arif. Sejarah bukanlah mitos atau cerita bohong tapi juga jangan memandang sejarah sesuatu yang sangat empiris atau harus ilmiah. Sebaiknya kita memandang sejarah sebagai ilmu yang menghargai peran manusia, peran waktu, dan mempunyai makna sosial yang tinggi. Dengan mengetahui makna sejarah itu kita berharap dapat menjadi orang bijak dalam mengelola sebuah organisasi sebesar Ubaya ini

 

SEJARAH DALAM KONTEKS MANAJEMEN

Prinsip sejarah apa yang sebenarnya dapat dipakai dalam mengelola organisasi. Jawabannya sangat banyak tergantung bagaimana kita memanfaatkan dalam konteks wacana atau aplikasinya. Sejarah menghargai peran manusia sangant besar karena manusia dianggap sebagai pelaku sejarah itu sendiri. Dalam organisasi modal awal yang diperlukan ada 3 yaitu SDM, Kapital dan  Sistem. Tanpa SDM organisasi tidak akan dapat berjalan. Maka perlu pelaku yaitu manusia itu sendiri. Pelaku Organisasi tersebut kemudian memanfaatkan Sistem dan Modal awal yang ada untuk menjalankan organisasi, yang dilakukan pertama adalah membuat planning atau rencana, mengadakan konsolidasi (Organizing),  melaksanakan rencana (Actualisasi), melakukan control dan evaluasi. Langkah berikutnya bagaimana pelaku organisasi ini memikirkan efektifitas dan produktivitas atas usahanya. Maka pelaku organisasi harus menghargai waktu. Waktu yang telah lampau tidak dapat kita ulang. Dipastikan prinsip “Evaluasi” dalam organisasi selalu ada sebagai sarana  untuk instrospeksi diri apa kita sudah benar dalam menjalankan organisasi. Waktu adalah uang demikian slogan yang selalu kita dengar tapi dalam sejarah, waktu adalah “perkembangan, kesinambungan, pengulangan dan perubahan” (Kuntowijoyo, 2005). Organisasi harus dinamis mengikuti perkembangan, tidak stagnan atau jalan ditempat. Dikelola secara berkesinambungan tidak hanya seumur jagung lalu mati, Proses dalam organisasi selalu mengikuti pola pengulangan dimana ada input yang dimasukkan dan berakhir dengan output yang dihasilkan. Dan jangan lupa tanpa inovasi organisasi hanya membuat jenuh di mata saja. Inovasi sebagai sarana perubahan sehingga mendukung perkembangan organisasi yang optimal. Ubaya tidak berdiri gagah dengan kaki sendiri ada faktor ekternal yang mendukungnya. Mahasiswa, orang tua, donator, pemerintah, pihak swasta yang memberi beasiswa dan masyarakat yang hidup disekitar Ubaya ini. Jadi keberhasilan  organisasi dapat dipandang dengan seberapa besar makna sosial yang telah diberikan oleh Ubaya kepada faktor eksternal atau masyarakat di sekitarnya.

 

LAMPAU, SAAT INI DAN RAMALAN KE DEPAN

Prinsip ini harus diingat setiap pengambil keputusan di kampus ini. Jangan pernah tinggalkan Sejarah. Kegagalan-kegagalan  yang lalu bisa menjadi pelajaran yang berharga sebaliknya keberhasilan bisa menjadi cambuk agar kita tidak cepat puas karena tantangan didepan tentunya telah menanti. Waktu yang berjalan akan terus mendorong kita untuk berpikir apa yang akan kita lakukan saat ini atau hari ini. Ingat yang kita lakukan hari ini atau saat ini harus lebih baik daripada hari atau saat kemarin…jika tidak kita tidak pernah belajar dari sejarah alias melakukan pembodohan. Ibarat kita sedang mengendarai kendaraan yang selalu berjalan ke depan untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencanakan sebelumnya, Kita tetap harus hati-hati dengan memperhatikan rambu-rambu, kondisi jalan di kiri dan kanan kendaraan dan hati-hati pula terhadap sesuatu yang terjadi di belakang kita. Sejarah itu ibarat kaca spion di kendaraan  yang membantu kita melihat kejadian atau kondisi perjalanan yang baru saja dilewati. Sejarah akan membawa kita dalam kehati-hatian. Bagaimana dengan ramalan ke depan apakah sejarah tidak diperlukan lagi. Untuk melakukan forecasting maka perlu dibutuhkan data atau peristiwa lalu dan data atau peristiwa saat ini ( up to date). Dengan trend yang tergambar maka tidak ada salahnya jika organisasi selalu  membuat ramalan-ramalan usahanya apakah akan berhasil atau tidak di masa datang.

 

MENYIAPKAN PELARI SPRINT,  MARATHON DAN ESTAFET

Pelaku sejarah mempunyai batas waktu atau mempunyai dimensi waktu yang terbatas. Ada beberapa pendiri Ubaya saat itu tidak akan pernah menjadi pelaku sejarah ketika Ubaya telah megah seperti ini atau Ubaya 20 tahun kedepan misalnya. Mereka dibatasi dimensi waktu ketika menjelang usia tua ,memasuki masa pensiun, dan wafat. Demikian pula pelaku organisasi, mereka akan masuk, terlibat di dalamnya dan kemudian harus mengakhiri pengabdiannya terus silih berganti seiring berjalannya waktu. Maka sudah saatnya Ubaya perlu memikirkan model pelari cepat yang merupakan para pioneer atau penggagas ide sehingga perubahan yang terjadi di Ubaya diharapkan  sangat cepat seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian menyiapkan pelari marathon yang dapat membawa Ubaya bertahan dalam rotasi perputarannya dan persaingannya dengan kompetitor atau perguruan tinggi lain dan yang terakhir strategi pelari estafet yaitu kaderisasi SDM sebagai tahap kesinambungan agar pelaku-pelaku sejarah sekaligus sebagai pengelola atau pelaku organisasi Ubaya tidak punah di kemudian hari.

 

KESALAHAN YANG HARUS DIHINDARI

Tahap akhir dari prinsip manajemen adalah evaluasi. Diharapkan Manajer atau pelaku organisasi menghindari beberapa kesalahan yang sering terjadi  misalnya pertama,, kesalahan Baconian , banyak manajer percaya bahwa usaha mereka berhasil dicapai karena harus bersifat empiris, lewat pengalaman atau pengamatan atau penginderaan. Mereka melupakan teori, konsep, ide, paradigma, praduga, hipotesis dan generalisasi. Semua itu mereka anggap sesuatu yang tidak penting,  dengan pengalaman saja mereka beranggapan sudah cukup dapat menjalankan organisasi dengan baik. Tentunya hal ini tidak mendidik dimana kita hidup dalam dunia kampus. Kedua, Jangan mempermasalahkan dikotomi, saat ini sering organisasi selalu meributkan dikotomi karyawan dan dosen, fungsional dan bukan fungsional,anggota senat dan bukan senat ,mana civitas dan bukan civitas academi hanya karena alasan prinsip struktur organisasi yang kaku. Hal ini akan memacu konflik yang mengarah ke masalah diskriminasi dalam organisasi. Ketiga, kesalahan  “Holisme” dimana manajer memilih suatu bagian penting dan menganggap bagian penting itu sudah mewakili keseluruhannya. Banyak organisasi yang sekarang ada membuat suatu kebijaksanaan hanya berdasarkan angket, survei, analisa, hipotesa dan melupakan kegiatan empiris lainnya. Pelaku organisasi tidak melihat,mengamati langsung apa yang terjadi  di lapangan. Bukankah situasi yang real cepat sekali perubahannya dan sekali lagi organisasi selalu terjebak dengan membuat keputusan yang berdasarkan satu bagian yang dianggap penting untuk dapat mewakili keseluruhannya. Keempat, jangan memandang Organisasi hanya karena factor “estetika” dengan mengumbar dan menonjolkan kemegahan,kekayaan,keindahan  saat ini karena bisa melupakan kelemahan-kelemahan yang masih kita . Cobalah bagaimana memandang Ubaya sebagai unsur yang terus berkembang karena disana sini masih membutuhkan kesempurnaan. Kelima, pelaku organisasi melupakan kegiatan “Verifikasi” dalam membuat keputusan. Jangan mudah terjebak oleh sumber-sumber yang  tidak otentik dan  tidak kredible. Selalu lakukan pengamatan (kegiatan Empiris) dan hasilkan keputusan yang rasional dan logis (Deduksi).  Semoga dengan Visi The First University in Heart and Mind Ubaya tidak akan pernah melupakan sejarahnya dan memandang Ubaya sebagai organisasi yang menghargai pelaku-pelaku di dalamnya, menghargai waktu dan mempunyai makna sosial terhadap lingkungan di sekitarnya. Selamat Dies ke 39.

 

 

 

Oky Widyanarko, SE *)

Pustakawan Universitas Surabaya, email : oky@ubaya.ac.id

Memorable Experience in Library : Sebagai Strategi Marketing di Perpustakaan

Tags:
@ 03:15 AM (22 months, 2 days ago)


Memorable Experience in Library

Sebagai Upaya Strategi Marketing di Perpustakaan

Oleh :

Oky   Widyanarko, SE

 

Perpustakaan Universitas Surabaya menjelang ujian akhir semester akan selalu dipadati mahasiswa yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan untuk mendukung kelancaran studinya. Banyak mahasiswa yang datang tidak hanya sekedar memanfaatkan fasilitas layanan sirkulasi dan referensi bahan pustaka saja, melainkan juga memanfaatkan ruang diskusi untuk belajar secara in***idu maupun kelompok. Sekedar sebagai ilustrasi bagaimana sebuah kesan terbentuk di perpustakaan, sebut saja Putri seorang mahasiswi datang ke perpustakaan untuk memanfaatkan fasilitas ruang diskusi. Dia bersama teman-teman kelompoknya memang telah membuat janji untuk bertemu. Mereka berjanji untuk langsung bertemu di ruang diskusi. Setelah menunggu beberapa menit tanpa ada kepastian temannya hadir, Putripun mencoba menghubunginya melalui handphone. Kontak inipun gagal karena pesawat temannya tidak diaktifkan. Kebetulan seorang petugas perpustakaan melihat kejadian ini dan menghampirinya sambil bertanya“ ada yang bisa saya bantu mbak”. Putripun mengutarakan permasalahannya bahwa dia mempunyai janji bertemu dengan beberapa temannya di ruang diskusi perpustakaan tetapi setelah setengah jam Putri menunggu dan mencari-cari, temannya belum muncul juga. Kemudian petugas perpustakaan tersebut menawarkan bantuan kepada Putri untuk memanggilkan nama temannya lewat media pengeras suara yang ada di dalam gedung perpustakaan. Setelah menunggu sekitar 2 menit nama teman-temannya telah dipanggil lewat pengeras suara. Tidak lama kemudian dengan tergesa-gesa beberapa mahasiswi datang menghampiri Putri yang sudah terpaku lama menunggu di pintu masuk ruang diskusi. Bagi Putri sebagai user perpustakaan hal seperti ini merupakan sebuah layanan yang memberikan kesan baik di dalam hatinya. Ketika ia sendiri dalam kesulitan menghubungi beberapa temannya tiba-tiba seorang petugas perpustakaan bersedia membantunya. Kesan baik tersebut tentu tidak begitu saja terlupakan oleh user perpustakaan seperti Putri tadi. Ilustrasi di atas tadi merupakan satu contoh saja bagaimana sebuah proses pembentukan kesan yang baik terjadi. Kesan melekat pada seorang user terhadap suatu layanan yang diberikan secara positif dalam ilmu marketing disebut memorable experience.

Strategi Jasa Informasi

Sebenarnya itu salah satu dari ratusan kisah yang pernah terjadi di perpustakaan. Hanya saja baik petugas perpustakaan yang melayani dan user sebagai pengguna selama ini tidak menyadari bahwa memorable experience tersebut merupakan salah satu strategi marketing sebuah perusahaan dalam hal ini perpustakaan untuk dapat mempertahankan loyalitas usernya. Untuk menciptakan sebuah kesan tentu petugas perpustakaan sebagai orang yang berada di frontlines perlu dibekali kiat-kiat khusus atau dibekali dengan training mengenai perilaku user perpustakaan, strategi layanan perpustakaan dan pelatihan kepribadian. Bekal latihan tersebut diharapkan dapat membawa manfaat bagi pustakawan dan pekerja perpustakaan dalam menghadapi komplain user selama bertugas di perpustakaan, memberikan solusi jika ada permasalahan dalam layanan dan tentunya memberikan kesan yang selalu simpatik dalam setiap layanan jasa yang diberikan oleh perpustakaan.

Tips buat Pustakawan

Ada beberapa tips untuk menghadapi user yang selalu membuat masalah dan banyak melakukan komplain.Salah satunya memberikan kesan yang tak terlupakan tadi sehingga akan merubah image user terhadap layanan yang diberikan perpustakaan. Tips tersebut, pertama adalah kita menganggap mereka para user sebagai adik atau teman yang selalu rewel dan minta perhatian. Kesabaran tentu kuncinya. Tapi jika kita mengetahui permasalahan dan solusi pemecahannya hal tersebut akan mempermudah petugas frontlines dalam menghadapi komplain user. Kedua, kesan simpatik diperlukan untuk menumbuhkan memorable experience user sehingga mereka merasa puas dengan layanan yang diberikan perpustakaan. Menampilkan kesan simpatik ini misalnya petugas membantu mencarikan buku di rak setelah melihat bahwa user kesulitan menemukannya, meminjamkan tangga buku ketika melihat user kesulitan mengambil buku yang berada pada rak tertinggi, meminta maaf jika layanan yang diberikan kurang memuaskan, mengucapkan selamat ulang tahun kepada user, mengucapkan selamat atas kelulusannya, membesuk user yang kebetulan sedang sakit, mengucapkan turut belasungkawa baik secara langsung kepada user atau keluarga user yang sedang tertimpa kesusahan baik secara langsung, surat maupun dengan media elektronik, dan masih banyak hal-hal kecil lainnya yang bisa dilakukan. Ketiga, utamakan kualitas layanan perpustakaan yang memenuhi standar mutu, misalnya buka dan tutup layanan tepat waktu, kebersihan, kerapian, kelengkapan fasilitas termasuk menyediakan fasilitas bagi user dengan keterbatasan fisik atau cacat dan keramahtamahan petugas. Penyediaan sarana hotspot WIFI secara cuma-cuma merupakan layanan terbaru yang diberikan perpustakaan saat ini dengan tujuan memberikan kenyamanan bagi user perpustakaan dan tentunya diharapkan dapat memberikan kesan baik dalam layanan perpustakaan.

Tujuannya “Locking Loyalty”

Upaya memberi kesan membekas kepada konsumen yang memanfaatkan layanan jasa informasi saat ini merupakan strategi yang banyak diadopsi oleh beberapa perpustakaan modern di luar negeri. Pembinaan dan pelatihan pustakawan atau pekerja perpustakaan serta penyediaan fasilitas yang mendukung merupakan usaha untuk mendukung strategi tersebut dengan tujuan tentunya dapat mengunci loyalitas user perpustakaan atau locking loyalty. Melakukan perbaikan dari hal-hal yang paling kecil seperti telah dikemukakan di atas dapat menjadi pelajaran bagi para pustakawan dan pekerja perpustakaan yang ada di Indonesia untuk memberikan citra positif pelayanan perpustakaan di masa datang.

 

Read the rest of this entry ... (108 words left)