Pendekatan Sejarah dalam Mengelola Organisasi
PENDEKATAN SEJARAH DALAM MENGELOLA ORGANISASI
REFLEKSI UBAYA DALAM RANGKA DIES KE 39
OLEH
Oky Widyanarko *)
MEMANDANG SEJARAH
Bagaimana
Sejarah perkembangan Ubaya ketika pertama berdiri sampai saat ini. Jika
pertanyaan ini diajukan kepada mahasiswa, karyawan atau dosen tentu
dapat kita duga hanya orang-orang tertentu saja yang tahu, Sebut saja
beberapa pelaku sejarah yang saat ini dapat kembali menceritakan
perkembangan sejarah Ubaya, diantaranya nama-nama Stany Soebakir
(Ketua Yayasan), Drs.Ec. Wibisono H, MS (Rektor Ubaya), Anton
Prijatno,SH (Mantan Rektor), Prof. Dr. Eko Sugitario,SH, Prof
Sutaryadi. Drs. Darmo Handoyo,Apt, Dra. Elisawati Wonohadi,Msi,Apt dan
masih banyak dosen dan beberapa karyawan senior yang masih aktif.
Sebenarnya apa itu Sejarah. Apa yang sudah terjadi, kita anggap sebagai
sejarah atau boleh kita mengatakan rekonstruksi masa lalu (
Kuntowijoyo, 2005). Mendiang Proklamator Bung Karno pernah mengingatkan
kita akan “Sejarah” dengan pidatonya yang terkenal di jaman revolusi
dulu dengan istilah “Jasmerah” atau jangan sekali-kali meninggalkan
sejarah dan bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa
pahlawannya. Bagaimanakah peran sejarah dalam kehidupan kita saat ini.
Ada Tiga hal penting saat ini yang dapat kita jadikan pelajaran
bagaimana kita sebagai komunitas yang hidup di Ubaya pada tingkat
pengetahuan dan keterlibatan tiap orang yang berbeda-beda memandang
sejarah dengan arif. Sejarah bukanlah mitos atau cerita bohong tapi
juga jangan memandang sejarah sesuatu yang sangat empiris atau harus
ilmiah. Sebaiknya kita memandang sejarah sebagai ilmu yang menghargai
peran manusia, peran waktu, dan mempunyai makna sosial yang tinggi.
Dengan mengetahui makna sejarah itu kita berharap dapat menjadi orang
bijak dalam mengelola sebuah organisasi sebesar Ubaya ini
SEJARAH DALAM KONTEKS MANAJEMEN
Prinsip
sejarah apa yang sebenarnya dapat dipakai dalam mengelola organisasi.
Jawabannya sangat banyak tergantung bagaimana kita memanfaatkan dalam
konteks wacana atau aplikasinya. Sejarah menghargai peran manusia
sangant besar karena manusia dianggap sebagai pelaku sejarah itu
sendiri. Dalam organisasi modal awal yang diperlukan ada 3 yaitu SDM,
Kapital dan Sistem. Tanpa SDM organisasi tidak akan dapat berjalan.
Maka perlu pelaku yaitu manusia itu sendiri. Pelaku Organisasi tersebut
kemudian memanfaatkan Sistem dan Modal awal yang ada untuk menjalankan
organisasi, yang dilakukan pertama adalah membuat planning atau
rencana, mengadakan konsolidasi (Organizing), melaksanakan rencana
(Actualisasi), melakukan control dan evaluasi. Langkah berikutnya
bagaimana pelaku organisasi ini memikirkan efektifitas dan
produktivitas atas usahanya. Maka pelaku organisasi harus menghargai
waktu. Waktu yang telah lampau tidak dapat kita ulang. Dipastikan
prinsip “Evaluasi” dalam organisasi selalu ada sebagai sarana untuk
instrospeksi diri apa kita sudah benar dalam menjalankan organisasi.
Waktu adalah uang demikian slogan yang selalu kita dengar tapi dalam
sejarah, waktu adalah “perkembangan, kesinambungan, pengulangan dan
perubahan” (Kuntowijoyo, 2005). Organisasi harus dinamis mengikuti
perkembangan, tidak stagnan atau jalan ditempat. Dikelola secara
berkesinambungan tidak hanya seumur jagung lalu mati, Proses dalam
organisasi selalu mengikuti pola pengulangan dimana ada input yang
dimasukkan dan berakhir dengan output yang dihasilkan. Dan jangan lupa
tanpa inovasi organisasi hanya membuat jenuh di mata saja. Inovasi
sebagai sarana perubahan sehingga mendukung perkembangan organisasi
yang optimal. Ubaya tidak berdiri gagah dengan kaki sendiri ada faktor
ekternal yang mendukungnya. Mahasiswa, orang tua, donator, pemerintah,
pihak swasta yang memberi beasiswa dan masyarakat yang hidup disekitar
Ubaya ini. Jadi keberhasilan organisasi dapat dipandang dengan
seberapa besar makna sosial yang telah diberikan oleh Ubaya kepada
faktor eksternal atau masyarakat di sekitarnya.
LAMPAU, SAAT INI DAN RAMALAN KE DEPAN
Prinsip
ini harus diingat setiap pengambil keputusan di kampus ini. Jangan
pernah tinggalkan Sejarah. Kegagalan-kegagalan yang lalu bisa menjadi
pelajaran yang berharga sebaliknya keberhasilan bisa menjadi cambuk
agar kita tidak cepat puas karena tantangan didepan tentunya telah
menanti. Waktu yang berjalan akan terus mendorong kita untuk berpikir
apa yang akan kita lakukan saat ini atau hari ini. Ingat yang kita
lakukan hari ini atau saat ini harus lebih baik daripada hari atau saat
kemarin…jika tidak kita tidak pernah belajar dari sejarah alias
melakukan pembodohan. Ibarat kita sedang mengendarai kendaraan yang
selalu berjalan ke depan untuk mencapai tujuan yang sudah kita
rencanakan sebelumnya, Kita tetap harus hati-hati dengan memperhatikan
rambu-rambu, kondisi jalan di kiri dan kanan kendaraan dan hati-hati
pula terhadap sesuatu yang terjadi di belakang kita. Sejarah itu ibarat
kaca spion di kendaraan yang membantu kita melihat kejadian atau
kondisi perjalanan yang baru saja dilewati. Sejarah akan membawa kita
dalam kehati-hatian. Bagaimana dengan ramalan ke depan apakah sejarah
tidak diperlukan lagi. Untuk melakukan forecasting maka perlu
dibutuhkan data atau peristiwa lalu dan data atau peristiwa saat ini (
up to date). Dengan trend yang tergambar maka tidak ada salahnya jika
organisasi selalu membuat ramalan-ramalan usahanya apakah akan
berhasil atau tidak di masa datang.
MENYIAPKAN PELARI SPRINT, MARATHON DAN ESTAFET
Pelaku
sejarah mempunyai batas waktu atau mempunyai dimensi waktu yang
terbatas. Ada beberapa pendiri Ubaya saat itu tidak akan pernah menjadi
pelaku sejarah ketika Ubaya telah megah seperti ini atau Ubaya 20 tahun
kedepan misalnya. Mereka dibatasi dimensi waktu ketika menjelang usia
tua ,memasuki masa pensiun, dan wafat. Demikian pula pelaku organisasi,
mereka akan masuk, terlibat di dalamnya dan kemudian harus mengakhiri
pengabdiannya terus silih berganti seiring berjalannya waktu. Maka
sudah saatnya Ubaya perlu memikirkan model pelari cepat yang merupakan
para pioneer atau penggagas ide sehingga perubahan yang terjadi di
Ubaya diharapkan sangat cepat seiring berkembangnya ilmu pengetahuan
dan teknologi, kemudian menyiapkan pelari marathon yang dapat membawa
Ubaya bertahan dalam rotasi perputarannya dan persaingannya dengan
kompetitor atau perguruan tinggi lain dan yang terakhir strategi pelari
estafet yaitu kaderisasi SDM sebagai tahap kesinambungan agar
pelaku-pelaku sejarah sekaligus sebagai pengelola atau pelaku
organisasi Ubaya tidak punah di kemudian hari.
KESALAHAN YANG HARUS DIHINDARI
Tahap akhir dari prinsip manajemen adalah evaluasi. Diharapkan Manajer atau pelaku organisasi menghindari beberapa kesalahan yang sering terjadi misalnya pertama,, kesalahan Baconian , banyak manajer percaya bahwa usaha mereka berhasil dicapai karena harus bersifat empiris, lewat pengalaman atau pengamatan atau penginderaan. Mereka melupakan teori, konsep, ide, paradigma, praduga, hipotesis dan generalisasi. Semua itu mereka anggap sesuatu yang tidak penting, dengan pengalaman saja mereka beranggapan sudah cukup dapat menjalankan organisasi dengan baik. Tentunya hal ini tidak mendidik dimana kita hidup dalam dunia kampus. Kedua, Jangan mempermasalahkan dikotomi, saat ini sering organisasi selalu meributkan dikotomi karyawan dan dosen, fungsional dan bukan fungsional,anggota senat dan bukan senat ,mana civitas dan bukan civitas academi hanya karena alasan prinsip struktur organisasi yang kaku. Hal ini akan memacu konflik yang mengarah ke masalah diskriminasi dalam organisasi. Ketiga, kesalahan “Holisme” dimana manajer memilih suatu bagian penting dan menganggap bagian penting itu sudah mewakili keseluruhannya. Banyak organisasi yang sekarang ada membuat suatu kebijaksanaan hanya berdasarkan angket, survei, analisa, hipotesa dan melupakan kegiatan empiris lainnya. Pelaku organisasi tidak melihat,mengamati langsung apa yang terjadi di lapangan. Bukankah situasi yang real cepat sekali perubahannya dan sekali lagi organisasi selalu terjebak dengan membuat keputusan yang berdasarkan satu bagian yang dianggap penting untuk dapat mewakili keseluruhannya. Keempat, jangan memandang Organisasi hanya karena factor “estetika” dengan mengumbar dan menonjolkan kemegahan,kekayaan,keindahan saat ini karena bisa melupakan kelemahan-kelemahan yang masih kita . Cobalah bagaimana memandang Ubaya sebagai unsur yang terus berkembang karena disana sini masih membutuhkan kesempurnaan. Kelima, pelaku organisasi melupakan kegiatan “Verifikasi” dalam membuat keputusan. Jangan mudah terjebak oleh sumber-sumber yang tidak otentik dan tidak kredible. Selalu lakukan pengamatan (kegiatan Empiris) dan hasilkan keputusan yang rasional dan logis (Deduksi). Semoga dengan Visi The First University in Heart and Mind Ubaya tidak akan pernah melupakan sejarahnya dan memandang Ubaya sebagai organisasi yang menghargai pelaku-pelaku di dalamnya, menghargai waktu dan mempunyai makna sosial terhadap lingkungan di sekitarnya. Selamat Dies ke 39.
Oky Widyanarko, SE *)