Oky's Journal Online

My Dedicated for All My Friends in Librarian Community at Ubaya

2008/12/1

Siapakah yang Paling Besar Imannya

Tags:
@ 08:22 PM (11 months, 10 days ago)

Siapakah Yang Paling Besar Imannya

 

Oleh :

 

Oky Widyanarko

Pustakawan Universitas Surabaya

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari kata “iman” sering kita dengar seperti iman kepada Allah, iman kepada Rasul dan iman kepada hari akhir. Tapi sebenarnya arti iman itu sendiri apa. Iman secara etimologis berarti 'percaya'. Perkataan iman diambil dari kata kerja 'aamana' -- yukminu' yang berarti 'percaya' atau 'membenarkan'. Perkataan iman yang berarti 'membenarkan' itu disebutkan dalam Al-Quran, di antaranya dalam Surat At-Taubah ayat 62 yang bermaksud: "Dia (Muhammad) itu membenarkan (mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman." Iman itu ditujukan kepada Allah, Rasul dan Para Imam [http://id.wikipedia.org/wiki/iman]. 

 

Iman dalam Sebuah Riwayat

 

Diriwayatkan oleh Umar bin Khatthab r.a., beliau berkata : saya bersama Rasulullah s.a.w sedang duduk-duduk. Rasul s.a.w. bertanya kepada para sahabat, "Katakan kepadaku, siapakah yang paling besar imannya?" Para sahabat menjawab; 'Para malaikat, wahai Rasul'. Nabi s.a.w bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. Sahabat menjawab, “Para Nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah SWT, wahai Rasul”. Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat”.

Sahabat menjawab lagi, “Para syuhada yang ikut bersyahid bersama para Nabi, wahai Rasul”.
Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah SWT telah memberikan mereka tempat”.
 
Siapakah yang Paling Besar Imannya

 

Para sahabat kemudian bertanya, “lalu siapa, wahai Rasul”? . Ternyata jawaban Nabi Muhammad s.a.w. seperti pada sabda beliau,


 “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman”. [Musnad Abî Ya’lâ, hadits nomor 160].

Mengelola Stres di Tempat Kerja : Renungan bagi Pustakawan

Tags:
@ 08:12 PM (11 months, 10 days ago)

Mengelola Stres di Tempat Kerja : Renungan bagi Pustakawan *)

 

Oleh :

 

Hari Subagijo **

Oky Widyanarko ***

 

 

Stres di tempat kerja bukan suatu fenomena yang aneh.Stres dapat menghinggapi siapa saja tidak terkecuali seorang pustakawan. Rutinitas pekerjaan dan beban kerja yang tinggi di perpustakaan dapat menjadi penyebabnya. Bahkan sebuah perusahaan asuransi bernama Northwestern National Life Insurance Co. mengatakan “stress di tempat kerja benar-benar mewabah”. Sebenarnya stres itu apa ?.

 

Definisi Stres

 

National Safety Council mendefinisikan stres sebagai ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional dan spiritual manusia, yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik manusia tersebut. Bila stres mengancam fisik manusia maka gejala yang muncul dengan cepat dapat berupa respon terhadap denyut jantung meningkat, tekanan darah meningkat, ketegangan otot meningkat, produksi keringat meningkat dan aktivitas metabolic meningkat. Referensi lain mengartikan stres sebagai kelebihan tuntutan atas kemampuan individu dalam memenuhi tuntutan tersebut.

 

Penyebab Pustakawan Stres

 

Bila melihat hasil riset yang dilakukan oleh Thomas Mann pada Oktober 2005 menunjukkan bahwa hampir 89% student di Amerika Serikat masih mengandalkan sumber informasi dalam bentuk cetak seperti buku dan journal yang ada di perpustakaan.  Merekapun masih tergantung bantuan pustakawan dalam pencarian informasi, layanan peminjaman, pengembalian dan perpanjangan buku, jurnal atau sumber informasi dalam bentuk cetak lainnya, sehingga hal ini juga berpengaruh pada tingginya beban kerja seorang pustakawan. Coba bisa anda bayangkan jika semua student Harvard of University yang memiliki koleksi tidak kurang 15 juta buku dan 90 jaringan perpustakaan bergantung pada pustakawan maka entah apa jadinya tingkat kesibukan pustakawan disana. Kondisi dimana terlalu banyak hal yang harus dilakukan oleh pustakawan atau pekerja perpustakaan  dan tidak cukup waktu untuk mengerjakannya adalah bibit-bibit timbulnya stres.

 

Penyebab stres sendiri dapat didefinisikan ke dalam beberapa kelompok yaitu :

  1. Penyebab organisasional
    • Kurangnya otonomi dan kreativitas, harapan, tenggat waktu dan kuota yang tidak logis, relokasi pekerjaan untuk pustakawan, kurangnya pelatihan bagi pustakawan, karier yang melelahkan, hubungan dengan pimpinan kurang harmonis, dituntut selalu mengikuti perkembangan iptek yang up to date, bertambahnya tanggungjawab tanpa pertambahan kompensasi dan selalu menjadi oknum yang dikorbankan jika kinerja perpustakaan buruk
  2. Penyebab individu
    • Pertentangan antara karier dan tanggungjawab keluarga, ketidakpastian ekonomi, kurangnya penghargaan atau apresiasi terhadap profesi pustakawan, kurangnya pengakuan kerja di bidang kepustakawanan, kejenuhan, ketidakpuasan kerja, kebosanan, konflik dengan rekan kerja (sesama pustakawan, pekerja perpustakaan, pimpinan)
  3. Penyebab lingkungan
    • Buruknya iklim lingkungan kerja, Diskrimasi ras dalam pekerjaan, pelecehan seksual yang dilakukan rekan kerja, pimpinan atau user perpustakaan, kekerasan di tempat kerja, kemacetan saat akan berangkat atau pulang kerja

 

Upaya Penanggulangan

Hal lainnya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghindari stres bagi pustakawan sebagai individu adalah dengan mengikuti saran-saran berikut ini.:

  • Pantaulah perilaku pribadi sendiri, buat catatan tentang perilaku itu, dan tentu saja, lanjutkan dengan mengubah perilaku tersebut (self-monitoring).
  • Sesuaikan program aktivitas anda dengan jadwal yang cocok dengan kebiasaan anda (tailoring). Misalnya, bila anda tidak mampu bangun pagi, hindari melakukan aktivitas pagi hari.
  • Berikan insentif, penghargaan, rewards, atau reinforcement apabila anda telah selesai melakukan suatu aktivitas atau program sesuai dengan rencana anda secara sukses. Insentif ini dapat berupa barang atau uang.
  • Sama halnya seperti insentif berupa materi; senyum manis, pujian, atau ucapan sayang (social reinforcement/social support) dari orang lain ketika anda telah melakukan sesuatu dengan berhasil pun dapat menjadi insentif yang kuat dan bermanfaat.
  • Buatlah kontrak pribadi (self-contracting) untuk melakukan hal-hal yang selama ini telah tertunda atau terabaikan. Misalnya, niat untuk bangun pagi, datang tidak terlambat, berdandan lebih cepat, dan lain-lain.
  • Kalau perlu, buatlah kontrak (perjanjian) dengan orang-orang yang penting secara pribadi (significant others) seperti suami, istri, teman, dan lain-lain. Janji semacam ini akan memperkuat kemauan anda untuk mengubah apa yang ingin anda ubah.
  • Ubahlah sesuatu secara bertahap, misalnya dari yang paling sederhana atau mudah ke yang paling kompleks atau sukar (shaping).
  • Usahakan untuk mempunyai sesuatu atau seseorang yang dapat memperingati anda bahwa sesuatu perlu dilakukan atau sudah dilakukan.
  • Jadilah anggota suatu kelompok (self-help groups) yang terdiri dari orang-orang dengan nasib atau kesuliatan yang sama (similar health and lifestyle problems). Ini dapat memberikan dukungan emosional bagi penderita stres.

 

Catatan Akhir

 

Bagaimanapun juga pustakawan mempunyai kemampuan terbatas maka harus ada upaya dari pihak organisasi (Yayasan, Universitas, Perpustakaan), individu (pustakawan sendiri) dan perbaikan lingkungan agar dapat mengurangi tekanan-tekanan yang dapat timbul kepada seorang pekerja sehingga sebagai profesional, pustakawan selalu terhindar dari gejala stres.

 

Daftar pustaka

 

·        Atkinson, jacqualine M.(a.b) F.X. Budiyanto, Mengatasi Stres di tempat kerja, Jakarta : Binarupa Aksara, 1997

·        National Safety Council, Manajemen Stres, Jakarta : EGC, 2003


* Artikel ini pernah dipublikasikan di jurnal Perpustakaan Universitas Surabaya, Vol.2 / 2008

** Staf Perpustakaan Universitas Surabaya

*** Pustakawan Universitas Surabaya

2008/1/31

Pendekatan Sejarah dalam Mengelola Organisasi

Tags:
@ 03:32 AM (21 months, 16 days ago)

PENDEKATAN SEJARAH DALAM MENGELOLA ORGANISASI

REFLEKSI UBAYA DALAM RANGKA DIES KE 39

 

OLEH

 

Oky Widyanarko *)

 

 

 

MEMANDANG SEJARAH

Bagaimana Sejarah perkembangan Ubaya ketika pertama berdiri sampai saat ini. Jika pertanyaan ini diajukan kepada mahasiswa, karyawan atau dosen tentu dapat kita duga hanya orang-orang tertentu saja yang tahu, Sebut saja beberapa pelaku sejarah yang saat ini dapat kembali menceritakan perkembangan sejarah Ubaya, diantaranya  nama-nama Stany Soebakir (Ketua Yayasan), Drs.Ec. Wibisono H, MS (Rektor Ubaya), Anton Prijatno,SH (Mantan Rektor), Prof. Dr. Eko Sugitario,SH, Prof Sutaryadi. Drs. Darmo Handoyo,Apt, Dra. Elisawati Wonohadi,Msi,Apt dan masih banyak dosen  dan beberapa karyawan senior yang masih aktif.  Sebenarnya apa itu Sejarah. Apa yang sudah terjadi, kita anggap sebagai sejarah atau boleh kita mengatakan rekonstruksi masa lalu ( Kuntowijoyo, 2005). Mendiang Proklamator Bung Karno pernah mengingatkan kita akan “Sejarah” dengan pidatonya yang terkenal di jaman revolusi dulu dengan istilah “Jasmerah” atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah dan bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa pahlawannya. Bagaimanakah peran sejarah dalam kehidupan kita saat ini. Ada Tiga hal penting saat ini yang dapat kita jadikan pelajaran  bagaimana kita sebagai komunitas yang hidup di Ubaya pada tingkat pengetahuan dan keterlibatan tiap orang yang berbeda-beda memandang sejarah dengan arif. Sejarah bukanlah mitos atau cerita bohong tapi juga jangan memandang sejarah sesuatu yang sangat empiris atau harus ilmiah. Sebaiknya kita memandang sejarah sebagai ilmu yang menghargai peran manusia, peran waktu, dan mempunyai makna sosial yang tinggi. Dengan mengetahui makna sejarah itu kita berharap dapat menjadi orang bijak dalam mengelola sebuah organisasi sebesar Ubaya ini

 

SEJARAH DALAM KONTEKS MANAJEMEN

Prinsip sejarah apa yang sebenarnya dapat dipakai dalam mengelola organisasi. Jawabannya sangat banyak tergantung bagaimana kita memanfaatkan dalam konteks wacana atau aplikasinya. Sejarah menghargai peran manusia sangant besar karena manusia dianggap sebagai pelaku sejarah itu sendiri. Dalam organisasi modal awal yang diperlukan ada 3 yaitu SDM, Kapital dan  Sistem. Tanpa SDM organisasi tidak akan dapat berjalan. Maka perlu pelaku yaitu manusia itu sendiri. Pelaku Organisasi tersebut kemudian memanfaatkan Sistem dan Modal awal yang ada untuk menjalankan organisasi, yang dilakukan pertama adalah membuat planning atau rencana, mengadakan konsolidasi (Organizing),  melaksanakan rencana (Actualisasi), melakukan control dan evaluasi. Langkah berikutnya bagaimana pelaku organisasi ini memikirkan efektifitas dan produktivitas atas usahanya. Maka pelaku organisasi harus menghargai waktu. Waktu yang telah lampau tidak dapat kita ulang. Dipastikan prinsip “Evaluasi” dalam organisasi selalu ada sebagai sarana  untuk instrospeksi diri apa kita sudah benar dalam menjalankan organisasi. Waktu adalah uang demikian slogan yang selalu kita dengar tapi dalam sejarah, waktu adalah “perkembangan, kesinambungan, pengulangan dan perubahan” (Kuntowijoyo, 2005). Organisasi harus dinamis mengikuti perkembangan, tidak stagnan atau jalan ditempat. Dikelola secara berkesinambungan tidak hanya seumur jagung lalu mati, Proses dalam organisasi selalu mengikuti pola pengulangan dimana ada input yang dimasukkan dan berakhir dengan output yang dihasilkan. Dan jangan lupa tanpa inovasi organisasi hanya membuat jenuh di mata saja. Inovasi sebagai sarana perubahan sehingga mendukung perkembangan organisasi yang optimal. Ubaya tidak berdiri gagah dengan kaki sendiri ada faktor ekternal yang mendukungnya. Mahasiswa, orang tua, donator, pemerintah, pihak swasta yang memberi beasiswa dan masyarakat yang hidup disekitar Ubaya ini. Jadi keberhasilan  organisasi dapat dipandang dengan seberapa besar makna sosial yang telah diberikan oleh Ubaya kepada faktor eksternal atau masyarakat di sekitarnya.

 

LAMPAU, SAAT INI DAN RAMALAN KE DEPAN

Prinsip ini harus diingat setiap pengambil keputusan di kampus ini. Jangan pernah tinggalkan Sejarah. Kegagalan-kegagalan  yang lalu bisa menjadi pelajaran yang berharga sebaliknya keberhasilan bisa menjadi cambuk agar kita tidak cepat puas karena tantangan didepan tentunya telah menanti. Waktu yang berjalan akan terus mendorong kita untuk berpikir apa yang akan kita lakukan saat ini atau hari ini. Ingat yang kita lakukan hari ini atau saat ini harus lebih baik daripada hari atau saat kemarin…jika tidak kita tidak pernah belajar dari sejarah alias melakukan pembodohan. Ibarat kita sedang mengendarai kendaraan yang selalu berjalan ke depan untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencanakan sebelumnya, Kita tetap harus hati-hati dengan memperhatikan rambu-rambu, kondisi jalan di kiri dan kanan kendaraan dan hati-hati pula terhadap sesuatu yang terjadi di belakang kita. Sejarah itu ibarat kaca spion di kendaraan  yang membantu kita melihat kejadian atau kondisi perjalanan yang baru saja dilewati. Sejarah akan membawa kita dalam kehati-hatian. Bagaimana dengan ramalan ke depan apakah sejarah tidak diperlukan lagi. Untuk melakukan forecasting maka perlu dibutuhkan data atau peristiwa lalu dan data atau peristiwa saat ini ( up to date). Dengan trend yang tergambar maka tidak ada salahnya jika organisasi selalu  membuat ramalan-ramalan usahanya apakah akan berhasil atau tidak di masa datang.

 

MENYIAPKAN PELARI SPRINT,  MARATHON DAN ESTAFET

Pelaku sejarah mempunyai batas waktu atau mempunyai dimensi waktu yang terbatas. Ada beberapa pendiri Ubaya saat itu tidak akan pernah menjadi pelaku sejarah ketika Ubaya telah megah seperti ini atau Ubaya 20 tahun kedepan misalnya. Mereka dibatasi dimensi waktu ketika menjelang usia tua ,memasuki masa pensiun, dan wafat. Demikian pula pelaku organisasi, mereka akan masuk, terlibat di dalamnya dan kemudian harus mengakhiri pengabdiannya terus silih berganti seiring berjalannya waktu. Maka sudah saatnya Ubaya perlu memikirkan model pelari cepat yang merupakan para pioneer atau penggagas ide sehingga perubahan yang terjadi di Ubaya diharapkan  sangat cepat seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian menyiapkan pelari marathon yang dapat membawa Ubaya bertahan dalam rotasi perputarannya dan persaingannya dengan kompetitor atau perguruan tinggi lain dan yang terakhir strategi pelari estafet yaitu kaderisasi SDM sebagai tahap kesinambungan agar pelaku-pelaku sejarah sekaligus sebagai pengelola atau pelaku organisasi Ubaya tidak punah di kemudian hari.

 

KESALAHAN YANG HARUS DIHINDARI

Tahap akhir dari prinsip manajemen adalah evaluasi. Diharapkan Manajer atau pelaku organisasi menghindari beberapa kesalahan yang sering terjadi  misalnya pertama,, kesalahan Baconian , banyak manajer percaya bahwa usaha mereka berhasil dicapai karena harus bersifat empiris, lewat pengalaman atau pengamatan atau penginderaan. Mereka melupakan teori, konsep, ide, paradigma, praduga, hipotesis dan generalisasi. Semua itu mereka anggap sesuatu yang tidak penting,  dengan pengalaman saja mereka beranggapan sudah cukup dapat menjalankan organisasi dengan baik. Tentunya hal ini tidak mendidik dimana kita hidup dalam dunia kampus. Kedua, Jangan mempermasalahkan dikotomi, saat ini sering organisasi selalu meributkan dikotomi karyawan dan dosen, fungsional dan bukan fungsional,anggota senat dan bukan senat ,mana civitas dan bukan civitas academi hanya karena alasan prinsip struktur organisasi yang kaku. Hal ini akan memacu konflik yang mengarah ke masalah diskriminasi dalam organisasi. Ketiga, kesalahan  “Holisme” dimana manajer memilih suatu bagian penting dan menganggap bagian penting itu sudah mewakili keseluruhannya. Banyak organisasi yang sekarang ada membuat suatu kebijaksanaan hanya berdasarkan angket, survei, analisa, hipotesa dan melupakan kegiatan empiris lainnya. Pelaku organisasi tidak melihat,mengamati langsung apa yang terjadi  di lapangan. Bukankah situasi yang real cepat sekali perubahannya dan sekali lagi organisasi selalu terjebak dengan membuat keputusan yang berdasarkan satu bagian yang dianggap penting untuk dapat mewakili keseluruhannya. Keempat, jangan memandang Organisasi hanya karena factor “estetika” dengan mengumbar dan menonjolkan kemegahan,kekayaan,keindahan  saat ini karena bisa melupakan kelemahan-kelemahan yang masih kita . Cobalah bagaimana memandang Ubaya sebagai unsur yang terus berkembang karena disana sini masih membutuhkan kesempurnaan. Kelima, pelaku organisasi melupakan kegiatan “Verifikasi” dalam membuat keputusan. Jangan mudah terjebak oleh sumber-sumber yang  tidak otentik dan  tidak kredible. Selalu lakukan pengamatan (kegiatan Empiris) dan hasilkan keputusan yang rasional dan logis (Deduksi).  Semoga dengan Visi The First University in Heart and Mind Ubaya tidak akan pernah melupakan sejarahnya dan memandang Ubaya sebagai organisasi yang menghargai pelaku-pelaku di dalamnya, menghargai waktu dan mempunyai makna sosial terhadap lingkungan di sekitarnya. Selamat Dies ke 39.

 

 

 

Oky Widyanarko, SE *)

Pustakawan Universitas Surabaya, email : oky@ubaya.ac.id

Memorable Experience in Library : Sebagai Strategi Marketing di Perpustakaan

Tags:
@ 03:15 AM (21 months, 16 days ago)


Memorable Experience in Library

Sebagai Upaya Strategi Marketing di Perpustakaan

Oleh :

Oky   Widyanarko, SE

 

Perpustakaan Universitas Surabaya menjelang ujian akhir semester akan selalu dipadati mahasiswa yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan untuk mendukung kelancaran studinya. Banyak mahasiswa yang datang tidak hanya sekedar memanfaatkan fasilitas layanan sirkulasi dan referensi bahan pustaka saja, melainkan juga memanfaatkan ruang diskusi untuk belajar secara in***idu maupun kelompok. Sekedar sebagai ilustrasi bagaimana sebuah kesan terbentuk di perpustakaan, sebut saja Putri seorang mahasiswi datang ke perpustakaan untuk memanfaatkan fasilitas ruang diskusi. Dia bersama teman-teman kelompoknya memang telah membuat janji untuk bertemu. Mereka berjanji untuk langsung bertemu di ruang diskusi. Setelah menunggu beberapa menit tanpa ada kepastian temannya hadir, Putripun mencoba menghubunginya melalui handphone. Kontak inipun gagal karena pesawat temannya tidak diaktifkan. Kebetulan seorang petugas perpustakaan melihat kejadian ini dan menghampirinya sambil bertanya“ ada yang bisa saya bantu mbak”. Putripun mengutarakan permasalahannya bahwa dia mempunyai janji bertemu dengan beberapa temannya di ruang diskusi perpustakaan tetapi setelah setengah jam Putri menunggu dan mencari-cari, temannya belum muncul juga. Kemudian petugas perpustakaan tersebut menawarkan bantuan kepada Putri untuk memanggilkan nama temannya lewat media pengeras suara yang ada di dalam gedung perpustakaan. Setelah menunggu sekitar 2 menit nama teman-temannya telah dipanggil lewat pengeras suara. Tidak lama kemudian dengan tergesa-gesa beberapa mahasiswi datang menghampiri Putri yang sudah terpaku lama menunggu di pintu masuk ruang diskusi. Bagi Putri sebagai user perpustakaan hal seperti ini merupakan sebuah layanan yang memberikan kesan baik di dalam hatinya. Ketika ia sendiri dalam kesulitan menghubungi beberapa temannya tiba-tiba seorang petugas perpustakaan bersedia membantunya. Kesan baik tersebut tentu tidak begitu saja terlupakan oleh user perpustakaan seperti Putri tadi. Ilustrasi di atas tadi merupakan satu contoh saja bagaimana sebuah proses pembentukan kesan yang baik terjadi. Kesan melekat pada seorang user terhadap suatu layanan yang diberikan secara positif dalam ilmu marketing disebut memorable experience.

Strategi Jasa Informasi

Sebenarnya itu salah satu dari ratusan kisah yang pernah terjadi di perpustakaan. Hanya saja baik petugas perpustakaan yang melayani dan user sebagai pengguna selama ini tidak menyadari bahwa memorable experience tersebut merupakan salah satu strategi marketing sebuah perusahaan dalam hal ini perpustakaan untuk dapat mempertahankan loyalitas usernya. Untuk menciptakan sebuah kesan tentu petugas perpustakaan sebagai orang yang berada di frontlines perlu dibekali kiat-kiat khusus atau dibekali dengan training mengenai perilaku user perpustakaan, strategi layanan perpustakaan dan pelatihan kepribadian. Bekal latihan tersebut diharapkan dapat membawa manfaat bagi pustakawan dan pekerja perpustakaan dalam menghadapi komplain user selama bertugas di perpustakaan, memberikan solusi jika ada permasalahan dalam layanan dan tentunya memberikan kesan yang selalu simpatik dalam setiap layanan jasa yang diberikan oleh perpustakaan.

Tips buat Pustakawan

Ada beberapa tips untuk menghadapi user yang selalu membuat masalah dan banyak melakukan komplain.Salah satunya memberikan kesan yang tak terlupakan tadi sehingga akan merubah image user terhadap layanan yang diberikan perpustakaan. Tips tersebut, pertama adalah kita menganggap mereka para user sebagai adik atau teman yang selalu rewel dan minta perhatian. Kesabaran tentu kuncinya. Tapi jika kita mengetahui permasalahan dan solusi pemecahannya hal tersebut akan mempermudah petugas frontlines dalam menghadapi komplain user. Kedua, kesan simpatik diperlukan untuk menumbuhkan memorable experience user sehingga mereka merasa puas dengan layanan yang diberikan perpustakaan. Menampilkan kesan simpatik ini misalnya petugas membantu mencarikan buku di rak setelah melihat bahwa user kesulitan menemukannya, meminjamkan tangga buku ketika melihat user kesulitan mengambil buku yang berada pada rak tertinggi, meminta maaf jika layanan yang diberikan kurang memuaskan, mengucapkan selamat ulang tahun kepada user, mengucapkan selamat atas kelulusannya, membesuk user yang kebetulan sedang sakit, mengucapkan turut belasungkawa baik secara langsung kepada user atau keluarga user yang sedang tertimpa kesusahan baik secara langsung, surat maupun dengan media elektronik, dan masih banyak hal-hal kecil lainnya yang bisa dilakukan. Ketiga, utamakan kualitas layanan perpustakaan yang memenuhi standar mutu, misalnya buka dan tutup layanan tepat waktu, kebersihan, kerapian, kelengkapan fasilitas termasuk menyediakan fasilitas bagi user dengan keterbatasan fisik atau cacat dan keramahtamahan petugas. Penyediaan sarana hotspot WIFI secara cuma-cuma merupakan layanan terbaru yang diberikan perpustakaan saat ini dengan tujuan memberikan kenyamanan bagi user perpustakaan dan tentunya diharapkan dapat memberikan kesan baik dalam layanan perpustakaan.

Tujuannya “Locking Loyalty”

Upaya memberi kesan membekas kepada konsumen yang memanfaatkan layanan jasa informasi saat ini merupakan strategi yang banyak diadopsi oleh beberapa perpustakaan modern di luar negeri. Pembinaan dan pelatihan pustakawan atau pekerja perpustakaan serta penyediaan fasilitas yang mendukung merupakan usaha untuk mendukung strategi tersebut dengan tujuan tentunya dapat mengunci loyalitas user perpustakaan atau locking loyalty. Melakukan perbaikan dari hal-hal yang paling kecil seperti telah dikemukakan di atas dapat menjadi pelajaran bagi para pustakawan dan pekerja perpustakaan yang ada di Indonesia untuk memberikan citra positif pelayanan perpustakaan di masa datang.

 

Read the rest of this entry ... (108 words left)

2008/1/25

Epistemologi yang Islami

Tags:
@ 08:50 PM (21 months, 21 days ago)

Menegakkan Kembali Epistemologi Yang Islami

Oleh : Oky Widyanarko

 

Peradaban Islam sesungguhnya telah berkembang jauh sebelum bangsa-bangsa barat banyak melakukan berbagai penemuan dalam bidang teknologi. Sebut saja pakar-pakar muslim seperti Ibnu Sina yang merupakan filsuf dan ahli dalam kedokteran. Ibnu Sina juga merupakan Bapak kedokteran Modern, Ibnu Khaldun seorang pakar ekonomi, historiografi dan sosiologi, Al-Farabi yang mempunyai kontribusi besar pada bidang matematika dan Farmasi.Pada zaman keemasan Islam tersebut para Sarjana Muslim sebagai pelopor perkembangan ilmu dan teknologi dalam mengaplikasikan ilmunya tidak terlepas dari peran agamanya yaitu Islam. Sebagai sumber utama pengembangan ilmunya tentu saja kembali kepada Al-Quran dan Hadist Nabi. Kemerosotan peradaban Islam di abad modern saat ini tentunya disebabkan umat muslim sendiri telah melupakan epistomologi yang seharusnya diaplikasikan secara islami. Padahal Allah telah berfirman :

"Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat, "(QS : AL HAJJ (HAJI) ayat 3)

Bagaimanakah kita sebagai umat Islam, sebagai intelektual muslim, sebagai sarjana dan calon-calon sarjana muslim menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban modern saat ini yang kadangkala jika disimak dan diamati banyak bertentangan dengan moral dan akhlak kehidupan yang islami. Misalnya saja perkembangan teknologi nuklir yang akhirnya digunakan untuk membunuh satu sama lain, penemuan farmasi yang ternyata disalah gunakan untuk merusak generasi muda dengan "narkoba" dan obat-obatan psikotropika, rekayasa genetika yang mungkin nantinya mengaburkan silsilah keturunan. Alhasil memang peradaban modern yang tidak didampingi oleh akhlak yang baik akan menuju kehancuran. Untuk itu para intelektual muslim harus berani mendefenisikan kembali Epistomologi modern saat ini yang sudah terjerumus ke dalam kesesatan.Ada baiknya kita berusaha kembali membawa epistemologi menjadi epistemologi yang Islami. Epistemologi sendiri berarti,

"Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan."�

"Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis"

Epistemologi harus dikembalikan menjadi epistemologi yang Islami dalam arti mengedepankan 2 unsur yang seimbang yaitu ilmu pengetahuan berdasar ayat-ayat yang bersifat "Kauliyah" atau Empirik termasuk didalamya rasio, panca indera dan intuisi (hati), kedua, ayat-ayat "Kauniyah" atau berdasarkan sumber-sumber formal Islam seperti wahyu dalam Al-Quran yang menerangkan manusia tentang sesuatu bersifat meta-empirik atau supra rasional dan Hadist Nabi. Kenyataan empirik mungkin dapat dibuktikan dengan metodologi penelitian yang sudah berkembang saat ini, tapi untuk ayat-ayat " Kauniyah" maka hati atau intuisilah yang memegang peranan dimana ketaqwaan dan keimanan seorang akan mempengaruhi hal tersebut, Allah sendiri telah menyampaikan firmannya : 

" Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya," (QS : AL HAJJ (HAJI) ayat 8)

Peringatan Allah tersebut ditujukan kepada orang-orang yang hanya menggunakan ayat-ayat Kauliyah atau empirik saja tanpa ada pertanggungjawabannya terhadap sesuatu yang  ghaib atau meta-empirik dalam hal ini tentunya keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan mereka, sebagai yang Maha Tahu. Para intelektual saat ini seakan-akan mulai terkena syndrome atheisme dimana semua kepandaiannya dan kejeniusannya dalam penemuan-penemuan ilmu dan teknologi karena hasil jerih payahnya sendiri dalam menggunakan akal dan panca inderanya. Semoga kita semua dijauhi dari pengaruh dan sifat-sifat tersebut dan sebagai intelektual muslim berupaya untuk mengembalikan epistemologi menjadi epistemologi yang Islami diakhiri dengan doa,

"dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS :THAAHAA ayat 114)"

Daftar Pustaka :

Al-Quran Online,http://quran.islamdotnet.com/cari.php, akses tanggal 15 Desember 2007

Ancok, DJamaludin dan Fuat Nashori Suroso, Psikologi Yang Islami : Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004

Epistemologi, http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi, akses tanggal 15 Desember 2007

Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, 1st.ed., Jakarta : Modern English Press, 1991 

 

Oky Widyanarko

Pustakawan Universitas Surabaya, Email oky@ubaya.ac.id

Meratapi Zion

Tags:
@ 08:44 PM (21 months, 21 days ago)

Bertepuk Sebelah Tangan

Ketika Israel Meratapi Zion


oleh : Oky Widyanarko

Pustakawan Universitas Surabaya


  • Sekilas Pandang
Tanah yang dijanjikan oleh Allah kepada bangsa Israel semenjak mereka dibawa oleh Musa sampai saat ini tidak pernah sepenuhnya menjadi hak milik bangsa ini. Mereka saat ini harus dapat hidup berdampingan dengan saudara tua mereka dari bangsa Arab yaitu Palestina. Bangsa Arab dengan mayoritas muslim memang hidup di sebagian besar wilayah Timur Tengah dan Jazirah Arab. Bangsa Israel seolah-olah memang ditakdirkan menjadi bangsa asing di negerinya sendiri, seperti yang diceritakan dalam kitab mereka sendiri ,

Read the rest of this entry ... (479 words left)

2008/1/16

Akuntabilitas Sebuah Perpustakaan : Menuju Perpustakaan dengan Manajemen Modern

Tags:
@ 01:18 AM (22 months, 1 day ago)

AKUNTABILITAS SEBUAH PERPUSTAKAAN

MENUJU PERPUSTAKAAN DENGAN MANAJEMEN MODERN

OLEH

Oky Widyanarko 

 

ABSTRAK

 

Akuntabilitas dipandang penting dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Proses Akuntabilitas sudah lama dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dan lembaga birokrat di pemerintahan dengan tujuan untuk dapat memastikan apakah perusahaan atau lembaga itu telah berhasil mencapai tujuan seperti yang direncanakan dalam strategi manajemennya . Ada tiga faktor penting dalam penilaian sebuah organisasi atau lembaga dalam kaitannya dengan akuntabilitas yaitu verifikasi penggunaan sumber daya yang tersedia, pencapaian target dan penilaian output yang dihasilkan.


Perpustakaan yang selama ini dianggap sebagai organisasi nirlaba kedepannya juga diharapkan mengikuti trend saat ini sebagai organisasi modern yang mempunyai tujuan dan strategi dalam pengembangannya. Diperlukan manajemen atau pengelolaan yang modern seperti perlunya perencanaan strategi, positioning perpustakaan, pengembngan produk dan strategi marketingnya , pengembangan SDM yang berkualitas sampai dengan masalah evaluasi atau akuntabilitas terhadap organisasi. Sebenarnya untuk organisasi seperti perpustakaan tidak boleh meremehkan apa arti akuntabilitas sebuah organisasi karena di dunia saat ini perusahaan hebat sekelas Boeing dan Microsoft pun tidak melupakan peran akuntabilitas organisasi yang hasilnya nanti dapat digunakan dalam penentuan strategi kebijakan perusahaan kedepan.


KONSEP  DAN ARTI AKUNTABILITAS


Dalam definisi tradisional, Akuntabilitas adalah istilah umum untuk menjelaskan betapa sejumlah organisasi telah memperlihatkan bahwa mereka sudah memenuhi misi yang mereka emban ( BENVENISTE, Guy, : 1991). Definisi lain menyebutkan akuntabilitas dapat diartikan sebagai kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggungjawabannya. Akuntabilitas terkait erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal pencapaian hasil pada pelayanan publik dan menyampaikannya secara transparan kepada masyarakat ( ARIFIYADI, Teguh,: 2008 ).

Konsep tentang Akuntabilitas secara harfiah dalam bahasa inggris biasa disebut dengan accoutability yang diartikan sebagai “yang dapat dipertanggungjawabkan”. Atau dalam kata sifat disebut sebagai accountable. Lalu apa bedanya dengan responsibility yang juga diartikan sebagai “tanggung jawab”. Pengertian accountability dan responsibility seringkali diartikan sama. Padahal maknanya jelas sangat berbeda. Beberapa ahli menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan birokrasi, responsibility merupakan otoritas yang diberikan atasan untuk melaksanakan suatu kebijakan. Sedangkan accountability merupakan kewajiban untuk menjelaskan bagaimana realisasi otoritas yang diperolehnya tersebut.

Berkaitan dengan istilah akuntabilitas, Sirajudin H Saleh dan Aslam Iqbal berpendapat bahwa akuntabilitas merupakan sisi-sisi sikap dan watak kehidupan manusia yang meliputi akuntabilitas internal dan eksternal seseorang. Dari sisi internal seseorang akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban orang tersebut kepada Tuhan-nya. Sedangkan akuntabilitas eksternal seseorang adalah akuntabilitas orang tersebut kepada lingkungannya baik lingkungan formal (atasan-bawahan) maupun lingkungan masyarakat.

Deklarasi Tokyo mengenai petunjuk akuntabilitas publik menetapkan pengertian akuntabilitas yakni kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggungjawaban fiskal,  manajeria dan program. Ini berarti bahwa akuntabilitas berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi (penilaian) mengenai standard pelaksanaan kegiatan, apakah standar yang dibuat sudah tepat dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dan apabila dirasa sudah tepat, manajemen memiliki tanggung jawab untuk mengimlementasikan standard-standard tersebut. Akuntabilitas juga merupakan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam pencapaian hasil pada pelayanan publik. Dalam hubungan ini, diperlukan evaluasi kinerja yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian hasil serta cara-cara yang digunakan untuk mencapai semua itu. Pengendalian (control) sebagai bagian penting dalam manajemen yang baik adalah hal yang saling menunjang dengan akuntabilitas. Dengan kata lain pengendalian tidak dapat berjalan efisien dan efektif bila tidak ditunjang dengan mekanisme akuntabilitas yang baik demikian juga sebaliknya.

Media akuntabilitas yang memadai dapat berbentuk laporan yang dapat mengekspresikan pencapaian tujuan melalui pengelolaan sumber daya suatu organisasi, karena pencapaian tujuan merupakan salah satu ukuran kinerja individu maupun unit organisasi. Tujuan tersebut dapat dilihat dalam rencana stratejik organisasi, rencana kinerja, dan program kerja tahunan, dengan tetap berpegangan pada Rencana Jangka Panjang dan Menengah (RJPM) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Media akuntabilitas lain yang cukup efektif dapat berupa laporan tahunan tentang pencapaian tugas pokok dan fungsi dan target-target serta aspek penunjangnya seperti aspek keuangan, aspek sarana dan prasarana, aspek sumber daya manusia dan lain-lain.


PERPUSTAKAAN YANG "ACCOUNTABLE"


Dalam definisi seperti yang telah dikemukakan di atas tuntutan terhadap perpustakaan sebagai organisasi publik tentunya tidak hanya sekedar menjadi “Responsibility Library” tetapi juga sekaligus “Accountable Library” atau perpustakaan yang bertanggungjawab kepada publiknya . Publik disini dapat diartikan sebagai pemakai (user), karyawan (pustakawan dan pekerja perpustakaan), pemilik perpustakaan (pemerintah, Yayasan, LSM dsb ) dan lingkungan dalam segala aspek yang berkaitan dengan operasional perpustakaan. Sehingga di masa datang perpustakaan dapat menjadi organisasi atau institusi yang mempunyai tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (selanjutnya dalam artikel akan disingkat CSR) atau penulis mempunyai gagasan baru dapat menjadi Library Social Responsibilty atau LSR dimana tolak ukurnya adalah dimilikinya identitas sebagai accountable library tadi. Dalam kaitannya dengan akuntabilitas terhadap perpustakaan saat ini mungkin perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah dapat dijadikan contoh.  Regulasi dari pemerintah berupa Peraturan  Inpres RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah  dapat menjadi pedoman perpustakaan-perpustakaan birokratis atau milik negara sebagai acuan atau tolak ukur  sebuah “library accountable” . Meskipun secara umum di dunia kepustakawanan belum dikenal standar akuntabilitas khusus bagi pengelolaan perpustakaan namun beberapa perpustakaan di luar negeri banyak mengadopsi ukuran-ukuran akuntabilitas seperti AA1000, Global Reporting Initiative, Verite, SA800,iSO14000 dan iSO9001. ISO 9001 lebih dikenal di Indonesia sebagai standar manajemen mutu pengelolaan organisasi. Penerapan ISO di organisasi berguna untuk :

 

  1. Meningkatkan citra organisasi
  2. Meningkatkan kinerja lingkungan sosial
  3. Meningkatkan efisiensi kegiatan
  4. Memperbaiki manajemen organisasi dengan menerapkan perencanaan, pelaksanaan, pengukuran dan tindakan perbaikan (plan, do, check, act)
  5. Meningkatkan penataan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dalam hal pengelolaan lingkungan
  6. Mengurangi resiko usaha
  7. Meningkatkan daya saing
  8. Meningkatkan komunikasi internal dan hubungan baik dengan berbagai pihak yang berkepentingan
  9. Mendapat kepercayaan dari konsumen / mitra kerja / pemodal

 

INDIKATOR AKUNTABILITAS PERPUSTAKAAN


Menurut Guy Benveniste dalam bukunya yang berjudul Birokrasi ada 3 jenis intervensi akuntabilitas dalam sebuah organisasi yang dapat dipakai oleh sebuah perpustakaan

1.  Pertama, berkaitan dengan verifikasi penggunaan sumber-sumber organisasi. Sumber-sumber organisasi seperti halnya perpustakaan dapat berupa modal atau anggaran, sumber daya manusia ( pustakawan dan pekerja perpustakaan ), sarana dan prasarana yang meliputi gedung perpustakaan dan fasilitasnya. Pembuatan laporan keuangan secara rutin yang telah diaudit dengan standar akuntansi yang diakui pemerintah atau internasional oleh pihak yang capable. Indikator lainnya tentu dari hasil assesment atau penilaian oleh Badan akreditasi yang diakui pemerintah misalnya Badan Akreditasi Nasional (BAN) Departemen Pendidikan Nasional. Untuk itu perpustakaan selalu dituntut untuk menyiapkan laporan tahunan yang tentunya selalu up to date.

2.      Mengacu pada target, program, implementasi dan evaluasi output tertentu yang diharapkan. Hal ini tentu berkaitan dengan strategi manajemen sebuah perpustakaan sehingga perencanaan program kerja, pengorganisasian atau konsolidasi, implementasi dan kontrol terhadap pelaksanaan program akan dievaluasi pada tahap akhirnya apakah sesuai dengan rencana atau tujuan yang diharapkan. Sebagai contoh sebuah perpustakaan daerah meluncurkan produk perpustakaan keliling yang diharapkan tujuannya untuk membina minat baca anak-anak sekolah atau anak-anak di daerah pelosok. Tapi kenyataannya segmen yang dituju kurang tepat misalnya mahasiswa dan hanya terbatas di kota besar saja. Tentu saja hal tersebut telah menyimpang sehingga berpengaruh terhadap penilaian sebuah perpustakaan yang accountable tadi.

3.   Mengacu pada evaluasi eksternal terhadap output sebuah produk yang dihasilkan perpustakaan. Sebagai contoh apakah produk katalog online perpustakaan (OPAC) akan bernilai tinggi dimana keterbatasan akan sarana telekomunikasi sangat tinggi. Tentu produk tersebut tidak tepat dan bernilai rendah. Ketidakmampuan perpustakaan melihat kondisi pasar dalam hal ini user akan sangat berpengaruh. Tidak adanya fasilitas komputer dan sarana telekomunikasi akan membuat user atau pemakai memilih kembali pada katalog manual misalnya. Penilaian produk yang dihasilkan dari hasil program awal sebuah perpustakaan dapat dinilai dari respon pengguna perpustakaan. Jika pasar atau user sebuah perpustakaan antusias menerimanya hal ini dapat menjadi point tinggi bagi perpustakaan yang accountable tadi.


PENUTUP


Akuntabilitas sebuah perpustakaan dalam era kompetisi saat ini sangat berpengaruh pada  positioning perpustakaan, Jika indikator akuntabilitasnya baik maka pasar atau user akan merespon positif dan membuat posisi perpustakaan sebagai penyedia jasa yang capable atau dapat dipercaya sekaligus predictable atau dapat diperkirakan mutunya akan tetap kuat posisinya di pasar penyedia jasa informasi. Sebaliknya jika pasar atau pengguna merespon negatif maka perpustakaan harus segera berbenah diri dengan melakukan evaluasi terhadap indikator-indikator dari akuntabilitas sebuah perpustakan yang bertanggungjawab kepada publiknya.


DAFTAR PUSTAKA


ARIFIYADI, Teguh, Konsep tentang Akuntabilitas dan Implementasinya di Indonesia, http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=detail&mod=artikel_itjen&view=1&id=BRT070511110601, akses 12 Januari 2008

BENVENISTE, Guy, Birokrasi, Jakarta : Rajawali, 1991

INDONESIA, Inpres RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, 1999

INDRANATA, Iskandar, Terampil dan Sukses Melakukan Audit Mutu Internal ISO 9001:2000 : Berdasarkan ISO 19011:2002, Bandung : Alfabeta, 2006

ISO, http://id.wikipedia.org/wiki/iso/, akses 16 Januari 2008

ISO 9001, http://id.wikipedia.ord/wiki/iso-9001, akses 16 Januari 2008        SALEH, Sirajudin H  & Aslam Iqbal, “Accountability”, Chapter I in a Book “Accountability The Endless Prophecy” edited by Sirajudin H Saleh and Aslam Iqbal, Asian and Pacific Develompent Centre, 1995.

SALIM, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Edisi pertama, Jakarta : Modern English Press, 1991

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, http://id.wikipedia.org/wiki/Tanggung_jawab_sosial_perusahaan, akses tanggal, akses tanggal 12 Januari 2008

TROUT, Jack, Yang Terbaru tentang Strategi Bisnis Nomor Satu Dunia, Jakarta ; Gramedia Pustaka Utama, 1997

Oky Widyanarko

Pustakawan Universitas Surabaya, email.oky@ubaya.ac.id


 

2008/1/15

Ya'juj dan Ma'juj Ancaman di Akhir Zaman

Tags:
@ 03:26 AM (22 months, 2 days ago)

Oleh :

Oky Widyanarko

" Hingga Apabila Telah Dibukakan (Benteng) Ya'juj dan Ma'juj, Sedangkan Mereka Turun dengan Cepatnya dari Seluruh Tempat yang Tinggi " (QS. Al-Anbiya : 96 ) " 

 

Apabila pembaca pernah mengikuti sequel film layar lebar “The Lord of The Rings” dikisahkan terjadi peperangan antara komunitas jahat kerajaan Sauron melawan komunitas baik yg dipimpin  Aragorn dan para hobitnya. Bagaimana kita melihat Saruman mempunyai  pasukannya yang terdiri dari orang-orang “Orc” yang buas dan beringas menyusun sebuah kekuatan di gua-gua dan gunung-gunung. Komunitas “Orc” inilah yang kemudian melakukan perusakan, pembunuhan dan penghancuran kota-kota disekitarnya untuk merebut kekuasaan dan wilayah kerajaan lain dengan misi berusaha untuk menguasai dunia dan seisinya dengan pengaruh kekuatan hitam, sedangkan para ksatria putih pembela kebenaran dan hobit berusaha menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ternyata gambaran itu tidak saja hanya di film belaka, dalam kenyataanya di dunia fana ini sendiri banyak diramalkan akan datangnya kelompok yang akan membuat kehancuran dimuka bumi ini dan tentu saja Allah SWT dengan perantara Rasulnya sudah mewanti-wanti kepada manusia akan datangnya ancaman tersebut seperti pada ayat pembuka di diatas.

Salah satu rukun Iman yaitu setiap muslim percaya pada datangnya hari akhir atau hari Kiamat. Datangnya hari yang penuh kedahsyatan tersebut tiada seorangpun yang tahu. Bahkan Rasulullah sendiri hanya mengetahui tanda-tandanya saja, seperti sabda beliau,

“Sekali-kali kiamat tidak akan terjadi sampai kalian melihat sepuluh tanda-tandanya, Kemudian beliau menyebut asap, Dajjal, binatang melata, Ya’juj dan Ma’juj, tenggelamnya tiga daratan yaitu di timur,barat dan jazirah arab….” (Hadist Shohih Muslim)

Siapakah gerangan Ya’juj dan Ma’juj ini…kenapa begitu pentingnya sehingga Allah SWT telah memperingatkan kepada kaum muslimin semua agar mewaspadai ancaman dari kaum yang satu ini. Bila pembaca merenungi kembali Quran surat Al-Kahfi maka dari sinilah permulaan datangnya bencana dari golongan Ya’juj dan Ma’juj ini. Bermula ketika DZulkarnain menaklukan kerajaan di barat dan di timur kemudian ketika akan kembali ke timur melalui utara, takkala sampai diantara dua gunung, ia menjumpai komunitas yang bersebelahan dengan kedua gunung tersebut yaitu dua gunung yang telah ada sejak Allah menciptakan bumi ini. Tapi diantara dua gunung tersebut terdapat celah atau gap pemisah. Dari gap inilah komunitas Ya’juj dan Ma’juj bisa menjamah komunitas lain yang berdekatan dengan mereka, lantas mereka melakukan perusakan, perampokan, pembunuhan dan penghancuran. Komunitas lain yang merasa terancam tersebut kemudian mengadukan hal tersebut kepada Dzulkarnain dan momen inipun diabadikan dalam QS. Al-Kahf : 94 yang berbunyi,

“ Apakah kami perlu mengupah agar Anda Sudi membangun benteng yang memisahkan antara kami dan mereka” (QS. Al-Kahfi : 94)

Maka Atas Seidzin Allah SWT , Dzulkarnainpun membuat benteng menutup celah itu dari campuran besi dan cairan tembaga panas yang memisahkan mereka hingga waktunya telah tiba sampai di kemudian hari benteng penutup itupun akan terbuka dan mereka akan membuat fitnah dan kerusakan lagi sampai datangnya hari akhir nanti , seperti yang difirmankan oleh Allah SWT,

“ Hingga apabila telah dibukakan (benteng) Ya’juj dan Ma’juj, sedangkan mereka turun dengan cepatnya dari seluruh tempat yang tinggi “ (QS. Al-Anbiya : 96)

Bagaimanakah ciri-ciri komunitas Ya’juj dan Ma’juj tersebut, Beberapa hadist nabi dan pendapat para Ulama memang tidak menyebutkan ciri fisik dan letak geografi secara detail hanya saja menyebutkan mereka dari segolongan manusia bukan dari bangsa jin atau malaikat, mereka dahulunya dua suku keturunan Yafid bin Nuh , nenek moyang mereka berasal dari Utara Asia , para ahli hadist menyebut mereka dengan Mongol dan Turkistan. Pendapat lainnya mengatakan dua suku itu adalah Tartar dan Mongol, sementara beberapa ulama lain menyebut mereka dengan Rusia dan Mongol dan ada juga menyebut mereka adalah suku Hongarian dan Mongol), mereka saat ini sudah menyebar dan berbaur ke seluruh komunitas yang ada di muka bumi ini ,

“ Dan pada hari itu Kami biarkan mereka berbaur antara satu sama lain…” (QS.Al-Kahf:99)

Kerusakan apa yang ditimbulkan mereka saat ini tentu tidak sama dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh nenek moyang mereka dulu, beberapa pendapat ulama mengatakan  bahwa fitnah yang dibawa Ya’juj dan Ma’juj saat ini adalah paham atheisme, komunisme, kapitalis, materialisme, bid’ah (bidat) dan kemerosotan moral umat manusia. Nah mungkin pembaca lebih mengenal kelompok manakah mereka…Wa Allahualam .

Daftar Pustaka

AL-QURAN Online, http://quran.islamdotnet.com/cari.php, akses 25 Desember 2006

Alexander Agung Menurut Islam, http://id.wikipedia.org/wiki/Alexander-Agung, akses 26 Desember 2006

HADIS Online, http://hadis.islamdotnet.com/, akses 25 Desember 2006

Artikel ini pernah dipublikasikan Warta Ubaya Edisi Januari 2007

Menjaga Identitas Muslim : Mengambil Pelajaran Umat Terdahulu

@ 02:59 AM (22 months, 2 days ago)

Oleh :

Oky Widyanarko

 

Siapakah yang dapat disebut muslim dan bagaimanakah muslim harus menjaga identitasnya. "Muslim" sendiri dapat berarti penganut atau umat beragama Islam, arti yang lebih luas yaitu orang-orang yang menyerahkan diri pada aturan hukum-hukum Allah. Islam sendiri dari bahasa Arab Al-Islam berarti berserah diri kepada Allah dan merupakan agama yang mengimani satu Tuhan (Monotheisme). Tiap umat yang diciptakan Allah SWT memiliki syariat dan ciri tersendiri. Demikian juga dengan muslim yang berbeda dengan umat lain yang pernah diciptakan oleh Allah. Sebelumnya sudah banyak umat yang diciptakan oleh Allah seperti umat Nuh, umat Idris, firaun, kaum Tsamud, kaum Luth dan Bani Israil. Muslim sendiri merupakan umat yang termuda dan risalahnya dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Bagaimana kondisi umat terdahulu sehingga sampai detik ini banyak yang sudah musnah. Sebut saja Firaun dan pengikutnya yang karena keingkarannya ditenggelamkan di laut Merah, umat Luth yang diluluhlantakan karena kebejatan moralnya, umat Nuh yang ditenggelamkan, Kaum Tsamud yang dihancurkan karena ketidaktaatannya terhadap hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah. Muslim harus dapat mengambil pelajaran dari umat terdahulu dan menjadikan muslim berbeda sehingga kita tetap dicintai oleh Allah sebagai Tuhan penguasa alam ini. Langkah apa yang sebaiknya kita lakukan agar identitas tersebut  tetap terjaga, antara lain dengan,

 1. Menerima Islam seutuhnya

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” ( QS. Al-Baqarah : 208 )

Demikianlah perintah Allah SWT dalam firman diatas bahwa muslim yang beriman harus menerima Islam sebagai agama secara keseluruhan, keseluruhan dalam arti apa yaitu menjalankan 5 rukun Islam dan 6 rukun Iman. Bukan hanya itu saja, mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari pelajaran yang didapat dari aturan atau hukum Allah baik dari Al-Quran maupun Hadis Nabi. Dua dasar penting dari Islam sendiri adalah Meng-Esa-kan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang menjadi sesembahan dan mengakui Muhammad sebagai Rasul yang diutus. Hal ini menjadi identitas muslim yang berbeda dengan umat lain seperti halnya Bani Israil yang dilaknat Allah karena keingkarannya terhadap ajaran Tauhid dan Membunuh Rasul-rasul yang diutusnya seperti dalam firmannya,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. ( QS. Al-Baqarah : 083 )

Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil [432], dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. ( QS. Al-Maaidah : 070 )

 2. Mengamalkan Al-Quran dan Hadist

Muslim wajib mengamalkan apa yang terkandung dalam kitab suci mereka yaitu Al-Quran karena Al-Quran diturunkan oleh Allah sebagai pembeda antara kebenaran dan kebathilan, kitab petunjuk, aturan  hukum, pemberi peringatan dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman bahkan untuk alam semesta. Janganlah berbuat seperti umat-umat terdahulu yang karena mengingkari ayat-ayat Allah, kemudian mereka mendapat kerugian di dunia dan akhirat, seperti dalam firmannya,

“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).” (QS.Al-Baqarah (Sapi betina) ayat 101)

“ Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS.Al-Baqarah (Sapi betina) ayat 39)

 3. Kesombongan bukanlah Identitas Muslim

Sifat sombong sangat dibenci Allah maka seorang muslim wajib menjauhi sifat tersebut karena umat-umat terdahulu banyak mendapat adzab dari Allah karena kesombongannya seperti halnya Firaun, Qorun dan umat Israil, Allah telah memperingatkan dalam firmannya,

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". (QS. Al-Israa : 004 )

 
"kepada Fir`aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong." (QS. Al-Muminuun : 046)

“ Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (AL QASHASH (CERITA) ayat 76)

“Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qashash (Cerita) ayat 78)

 4. Jihad, siapa takut

Dalam Islam, arti kata Jihad adalah berjuang dengan sungguh-sungguh.Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran. Jihad tidak selalu identik dengan perang dan peperangan tetapi juga dapat berarti berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada umat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan segala pengorbanannya baik harta benda dan jiwa.Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman berkaitan dengan jihad seperti dalam firmannya,

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 20)

Menegakkan kembali jihad di sisi Allah merupakan identitas muslim dan Allah sangat memuji mereka-mereka yang berjihad di jalan Allah. Bagaimanakah Umat-umat terdahulu, mereka dilaknat karena ingkar tehadap perintah Jihad, seperti Umat Israil,

 “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang." Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?" Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang lalim. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 246)

Identitas yang sudah dibangun oleh Nabi Muhammad SAW sudah menjadi kewajiban muslim untuk dijaga. Sehingga kita tetap dapat dipandang oleh Allah sebagai umat yang terbaik seperti Allah telah memuji kita,

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan  agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” ( QS. Al-Baqarah : 143 )

" Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN) ayat 110)



Daftar Pustaka

Al-Quran Online,http://quran.islamdotnet.com/cari.php, akses tanggal 15 Desember 2007

Ancok, DJamaludin dan Fuat Nashori Suroso, Psikologi Yang Islami : Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004

HADIS Online, http://hadis.islamdotnet.com/, akses tanggal 15 Januari 2008

Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, 1st.ed., Jakarta : Modern English Press, 1991


"Positioning" Dalam Pemasaran Layanan Perpustakaan

@ 02:45 AM (22 months, 2 days ago)

Oleh :

Oky Widyanarko


ABSTRAK

Positioning merupakan salah satu strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan modern saat ini. Perpustakaan yang awalnya mempunyai konsep sebagai institusi nirlaba mulai mengadopsi strategi ini untuk berkembang menjadi perpustakaan modern yang inovatif dan berusaha kreatif menjual produk jasanya. Positioning sendiri tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat regulasi, Membangun citra atau brand image pasar dan melakukan repositioning dan strategi diferensiasi jika dikemudain hari produk mereka masuk ke dalam hukum “product Life Cycle”

 

Strategi pemasaran sangat penting dalam menentukan perjalanan ke depan sebuah perusahaan agar tetap eksis dalam kancah persaingan usaha. Strategi pemasaran modern yang dikembangkan Hermawan Kartajaya dengan konsep sembilan elemen pemasarannya atau milik Michael Porter dengan model “ The Five Forces” banyak diadopsi dan diadaptasikan di banyak perusahaan kelas dunia, misalnya Intel, Lux, Amazon dan The Body Shop. Salah satu unsur terpenting dari strategi pemasaran itu adalah “positioning”. Apakan strategi positioning juga dapat diadaptasikan kepada perusahaan jasa. Jawabannya adalah pasti dapat,termasuk di dalamnya sebuah institusi perpustakaan yang dulu selalu dikenal sebagai organisasi nirlaba. Perpustakaan modern saat ini tentu telah banyak merubah strategi organisasinya agar tetap eksis dalam kompetisi dengan melakukan “reposition” visi dan misi organisasi termasuk menjual produk layanan informasi kepada segmen pasar yang telah mereka tentukan sendiri di masa awal ketika berdiri. Perpustakaan Perguruan tinggi mempunyai segmen pasar yaitu kelompok mahasiswa dan pengajar, perpustakaan umum atau daerah mempunyai segmen pasar masyarakat umum demikian pula dengan perpustakaan khusus yang menjual produk jasanya kepada kalangan tertentu atau khusus.

“POSITIONING” APA DAN BAGAIMANA

Dalam definisi tradisional, Positioning sering disebut sebagai strategi untuk memenangi dan menguasai benak pelanggan melalui produk yang kita tawarkan (Kartajaya, Hermawan : 2004 :11). Hermawan Kartajaya dalam bukunya “ Hermawan Kartajaya on Positioning mempunyai definisi sendiri. Positioning didefinisikan sebagai the strategy to lead your customer credible, yaitu upaya mengarahkan pelanggan anda secara kredibel atau dengan kata lain upaya untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan pelanggan. Semakin kredibel anda di mata pelanggan, semakin kukuh pula positioning anda.

PERAN REGULASI DALAM MENENTUKAN “POSITIONING” PERPUSTAKAAN

Peran Regulasi dapat menentukan positioning sebuah perpustakaan, sebagai contoh dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang Wajib Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, maka Perpustakaan Nasional dan jaringan dibawahnya merupakan satu-satunya organisasi yang mempunyai otoritas dalam pengumpulan koleksi-koleksi karya cetak dan karya rekam dari seluruh penerbit di Indonesia. Positioning perpustakaan Nasional sangat kuat tentunya dengan brand image perpustakaan terlengkap koleksinya di Indonesia, sehingga pemustaka/pengguna perpustakaan otomastis akan tergantung kepada perpustakaan Nasional. Contoh lain adalah Perpustakaan Umum DKI dengan SK Gubernur No. 499 tahun 1996. Positioning Perpusda DKI akan semakin kuat karena dengan regulasi tersebut masing-masing unit atau satuan kerja di lingkungan Pemprov DKI wajib memberikan sembilan karya cetak untuk dikoleksi Perpusda DKI. Perpusda DKI akan mempunyai brand image di masyarakat sebagai perpustakaan dengan koleksi lokal DKI Jakarta terlengkap di Indonesia tentunya. Pada beberapa Perpustakaan Perguruan Tinggi, Statuta Universitas merupakan senjata ampuh untuk memposisikan Perpustakaan sebagai “ Center of Learning”.

MOTTO PERPUSTAKAAN DAN POSITIONING

Motto dapat dijadikan sebagai alat atau senjata untuk mengarahkan masyarakat agar mengetahui Positioning sebuah perusahaan dalam menjual produk barang atau jasanya. Sebagai contoh Coca Cola yang memposisikan dirinya sebagai “ The Real Thing” alias Cola yang Orisinil dan Klasik. Dengan semboyan atau motto tersebut Coca Cola berusaha mengarahkan atau memberi citra kepada masyarakat bahwa selain Coca Cola minuman Cola lainnya adalah pasti palsu. Sebaliknya sebagai tandingan atau competitor, Pepsi berusaha membangun citra dirinya dengan sebutan “ Generation Next” dan menganggap Coca Cola sebagai terlalu tua. Jika diibaratkan sebagai perusahaan yang menjual jasa maka perpustakaan dalam menentukan posisinya dapat memberikan semboyan atau motto yang mudah dikenal oleh masyarakat sehingga brand image terhadap produk dan perpustakaan sebagai produsennya akan diingat selalu oleh pengguna perpustakaan. Di beberapa perpustakaan Amerika Serikat telah banyak yang mengadopsi positioning ini, diantaranya Biomedical Library University of California dengan “"Connect, reflect, research, discover" , Royal Hospital Central library dengan motto “Quality has to be Seen to be Believed, Perpustakaan Universitas Minnesota di AS yang dikenal sebagai “ Human Right Of Library”. Di Indonesia ada beberapa perpustakaan yang telah mengembangkan strategi positioning ini seperti perpustakaan Petra Surabaya dengan konsep “Perpustakaan Tanpa Dinding (Library Without Walls)” ketika memulai terbentuknya jaringan PetraNet dengan menyediakan layanan akses internet bagi penggunanya dan mulai mengembangkan layanan online pada tahun 1996, Perpustakaan Universitas Surabaya dengan “One Stop Information Service Provider”, Moto “melayani dengan cinta” milik perpustakaan ITS.

BRAND IMAGE DALAM PEMASARAN LAYANAN PERPUSTAKAAN

Menentukan “ Brand Image” yang akan dijual oleh perpustakaan sangatlah penting. Beberapa marketer dalam dunia marketing membedakan aspek psikologi merk dengan aspek pengalaman. Aspek pengalaman merupakan gabungan seluruh point pengalaman berinteraksi dengan merk, atau sering disebut brand experience. Aspek psikologis, sering direferensikan sebagai brand image, adalah citra yang dibangun dalam alam bawah sadar konsumen melalui informasi dan ekspektasi yang diharapkan melalui produk atau jasa. Pendekatan yang menyeluruh dalam membangun merk meliputi struktur merk, bisnis dan manusia yang terlibat dalam produk. Sebagai Contoh Perpustakaan Umum DKI Jakarta tentu mempunyai produk local content mengenai Jakarta baik buku tentang sejarah Jakarta, Peraturan daerah, statistik kota Jakarta dan sebagainya, sehingga produk atau koleksi yang dimiliki oleh perpusda DKI Jakarta dapat dijadikan brand image bagi perpustakaan tersebut. Dengan brand image tersebut, Perpusda DKI Jakarta mencoba membangun citra dan mengarahkan masyarakat sehingga mereka para pemustaka atau pengguna perpustakaan mengerti bahwa hanya Perpusda DKI Jakarta sajalah yang memiliki koleksi terlengkap mengenai seluk beluk kota Jakarta. Strategi tersebut juga dikembangkan oleh beberapa perpustakaan daerah di era 80-an dengan produk layanan terkenalnya mobil perpustakaan keliling, PDII-LIPI dengan produk kemasan informasi digitalnya, Perpustakaan Khusus lainnya seperti Perpustakaan Bung Hatta, Japan Foundation ,British Council, Produk Spectra dari Perpustakaan Petra, KCM dari Kompas, Sampoerna Corner milik perpustakaan ITS, Amcor milik perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya.

INOVATIF DAN KREATIF

Agar positioning tetap kuat maka perpustakaan yang diibaratkan sebagai perusahaan jasa yang menyediakan informasi harus tetap inovatif dan kreatif dalam membangun brand image kepada pengguna perpustakaan. Positioning akan berubah jika nantinya ada kompetitor yang lebih baik dalam menawarkan jasa dan berhasil membangun brand image yang ditawarkan. Tapi hukum alam marketing tentunta akan terus berjalan yaitu product life cycle dimana produk yang telah menjadi unggulan dan merupakan the best brand image bagi perpustakaan akan ada masa surutnya, maka kebijaksanaan internal Perpustakaan harus segera melakukan repositioning dengan melakukan diferensiasi produk jasa. Pustakawan dan SDM Perpustakaan yang inovatif dan kreatiflah sebagai kunci, maka benar kata Jact Trout seorang pakar marketing yaitu Diferentiatie or Die , berbeda atau mati.

PENUTUP

Dalam menentukan positioning, sebuah perusahaan tidak terlepas dari hal-hal yang menguntungkan maupun merugikan bagi dirinya. Regulasi adalah salah satu penyebabnya. Ketika zaman orde baru sebelum diberlakukannya UU anti Monopoli maka posisi perusahaan sekelas Telkom dan Pertamina sangant kuat. Tanpa harus bermarketingpun mereka akan tetap dapat memeras pundi-pundi emas. Sebaliknya ketika diberlakukan UU anti monopoli maka perusahaan-perusahaan tersebut segera melakukan repositioning dan differensiasi. Perpustakaan bisa mengambil pelajaran dari strategi marketing modern. Regulasi dalam menetukan keberadaan perpustakaan dapat menjadi modal awal untuk menentukan segmen pasar yang dituju dan menentukan brand image kepada calon user atau pengguna sebelum produk jasa yang akan ditawarkan di pasarkan. Perpustakaan jangan terlalu takut mengambil resiko dengan berpikir apakah produk yang ditawarkan akan laku atau tidak karena yang menilai sebuah produk adalah user atau pengguna dengan berbagai persepsi yang berkembang di masyarakat. Perpustakaan tentunya hanya berusaha melakukan positioning agar brand imagenya tetap kuat di mata user atau pengguna perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA

* Biomedical Library, Dramatically Renovated, Plans Colorful Dedication, http://www.universityofcalifornia.edu/news/article/8471, akses 24 Nopember 2007

* Central Medical Library Royal Hospital, http://www.rhcml.com/about.asp, diakses 24 Nopember 2007

* Dengan Diberlakukannya Otonomi Daerah, UU No. 4/1990 tentang Wajib Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Perlu Direvisi, http://www.pnri.go.id/official_v2005.5/activities/news/index.asp?box=detail&id=200671215117&from_box=list&page=15&search_keyword=, akses tanggal 23 Nopember 2007

* Djatin, Jusni dan Sri Hartinah, PENGEMASAN DAN PEMASARAN INFORMASI : PENGALAMAN PDII-LIPI, www.consal.org.sg/webupload/forums/attachments/2277.doc, akses 29 Nopember 2007

* KARTAJAYA, Hermawan, Hermawan Kertajaya On Positioning, Bandung : Mizan, 2006

* KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.1, Jakarta : Prehallindo, 1997

* KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.2, Jakarta : Prehallindo, 1997

* ·Perpustakaan ITS: Melayani DenganCinta,http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=2715, akses 29 Nopember 2007

* RUHIMAT,Perpustakaan Perlu Wajah Baru, http://www.jplh.or.id/elnv4/topik/artikel/perpustakaan_perlu_wajah_baru.html, akses tanggal 23 Nopember 2007

* TROUT, Jack, Big Brands Big Trouble : Pelajaran Berharga dari Merk-Merk Ternama, Jakarta : Elangga, 2002

* TROUT, Jack, Yang Terbaru tentang Strategi Bisnis Nomor Satu Dunia, Jakarta ; Gramedia Pustaka Utama, 1997



Oky Widyanarko, Pustakawan Universitas Surabaya, email.oky@ubaya.ac.id